Formula Azana di Era New Normal & Next Normal

Dicky Sumarsono CEO Azana Hotels & Resorts saat Webinar “Hotel Business Rebound, Extraordinary Action for Rapid Result” Senin (3/8)

LINTAS1, SOLO – Menghadapi new normal memang tidak bisa mengharapkan aktivitas bakal kembali seperti semula 100%. Pasalnya, di era new normal ini, perlu beradaptasi dengan berbagai perubahan dan protokol kesehatan yang sudah ditentukan pemerintah demi menekan penyebaran virus Corona.

Semua industri pun ikut beradaptasi, termasuk perhotelan. Demi bertahan di tengah tekanan ekonomi yang cukup signifikan, ada berbagai perubahan pada industri ini. Lalu apa solusinya untuk bisnis hotel ?

Salah satu industri perhotelan yang tetap berkomitmen untuk berorientasi pada strategi bisnis jangka panjang, saat ini sebagaimana yang dilakukan Azana mengarah pada kekuatan finansial dan independensi yang menjadi kunci bagi operasional dan performa bisnis perusahaan.

Sebagaimana disampaikan Dicky Sumarsono, CEO Azana Hotels and Resorts saat webinar “Hotel Business Rebound, Extraordinary Action for Rapid Result” Senin (3/8/2020)

Industri perhotelan sebelum new normal tingkat okupansi 100 persen dengan biaya operasional 55 persen pendapatan 45 persen, kini berupaya okupansi mencapai 80 persen, biaya operasional ditekan hingga 40 persen untuk mendapatkan perolehan di angka 40 persen.

Model bisnis dengan konsep pengiriman produk dan layanan menjadi tren tertinggi saat ini, perhotelan tidak lagi bisa didapatkan hanya mengandalkan fasilitas menu sarapan, keramahan dan senyum, kolam renang ataupun bar, karaoke dan lounge.

“Hygiene, cleanliness, safety,” kata Dicky. Tamu menginap lebih memperhatikan kebutuhan tersebut dari pada yang lain-lainnya, sehingga pelaku perhotelan pun dituntut untuk mampu memunculkan ide dan strategi yang berdampak tinggi terhadap tamu hotel. Cari polanya kemudian terapkan bencmark baru.

Karena sebetulnya banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat formula baru, selama pandemi berlangsung, semua potensi memungkinkan untuk itu. Dan Azana telah memetakan formula tersebut bagi hotel yang berada di bawah kendalinya.

Omni Channel, Strategi Baru Bersaing di Ranah Digital
Azana menerapkan Omni Channel, berjualan dengan baragam platform semuanya dalam satu sistem, kombinasi dari berbagai macam cara dan channel untuk berbelanja, namun tetap memberikan brand feeling yang sama.

“Seiring perkembangan teknologi, konsumen juga dapat dengan mudah mencari tahu tentang apa yang ingin dibelinya melalui media kapanpun dan di manapun. Inilah yang membuat konsumen memiliki ekspektasi untuk bisa belanja melalui cara apapun, kapanpun, semudah mungkin, dan dengan brand experience yang sama,” imbuh Dicky.

Selain sejumlah formula baru seperti optimalkan Search Engine Optimization (SEO), iklan di sosmed, menawarkan harga dinamis, memperluas jangkauan, memanfaatkan inluencer, membidik nichemarket, merespon jaringan sosmed dan Online Travel Agent(OTA)

Potensi Pasar Domestik
Indonesia dengan jumlah penduduk dikisaran angka 270 juta, menjadi pasar yang sangat potensial dan menjanjikan. Saat ini operator hotel beralih ke lokasi-lokasi lain yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, supaya bisa merangkul lebih banyak wisatawan domestik.

“Lokasi-lokasi baru diharapkan bisa menarik wisatawan lokal untuk berkunjung setelah pembatasa sosial domestik dicabut,” kata Dicky. Membidik pasar wisatawan lokal melalui staycation dinilai bisa mengangkat sektor properti hotel jika dikelola dengan benar.

Sebagai langkah konkret, Azana fokus untuk memastikan sumber pendapatan terus optimal, mulai bisnis akomodasi maupun non akomodasi, sambil memastikan tetap memberikan layanan terbaik bagi para pelanggan dan terus mendukung bisnis mitra tetap berjalan di tengah situasi pandemi ini.

Seorang leader harus gesit dan mantul, kata Dicky menyebut istilah ekonomi baru untuk bergerak cepat, dan punya keingintahuan yang tinggi serta kontribusi maksimal. Menyadari pentingnya kekuatan daya tangkap serta mamahami tuntutan pasar yang saat ini sudah berubah.

“Produktivitas akan berhenti tanpa kreativitas dan perubahan akan berhenti tanpa inovasi,” tegasnya

Hingga menempatkan Azana seperti saat ini, lanjut Dicky, sebelum ada pandemi Covid-19, kinerja tumbuh luar biasa yakni growth revenue per tahun selalu di kisaran 35-50%. Saat ini Azana memiliki total karyawan permanen dan kontrak sejumlah 1.000 orang, 460.545 tamu per tahun, dan 51 hotel di bawah merek Front One Cabin, Front One Budget, Front One Boutique, Front One Hotel, Front One Resort, Azana Styles, The Azana Hotel, dan beberapa white label brand yang menggunakan merek milik property owner dengan tambahan “managed by Azana”.

Wabah pandemi Covid-19 diakuinya berdampak besar terhadap industri hotel. Namun, ia yakin bahwa itu temporer, dan pihaknya sudah menyiapkan strategi normalisasi pasca wabah Covid-19, tidak hanya new normal tapi juga next normal.

Dari semua unit hotel Azana yang dikelola, masing-masing punya kelebihan. Front One Resort Magelang yang berkonsep city resort hotel, misalnya, termasuk yang kinerjanya sangat bagus. Hotel di tengah Kota Magelang dengan lahan seluas 2 hektar itu memiliki 89 kamar dengan fasilitas olahraga yang lengkap, mulai dari kolam renang semiolimpiade, lapangan basket, lapangan tenis, futsal, hingga fasilitas outbound, grand ballroom, dan resto. Front One Resort Magelang berhasil membukukan year-to-date occupancy 80% dengan GOP 45%.

Ada pula hotel baru berskala besar, seperti Braling Grand Hotel by Azana di Purbalingga, yang sudah disebutkan di atas. Lalu, Azana juga punya sejumlah hotel yang manajemen dan pola operasionalnya paling simpel: cabin hotel. Konsep ini payback period-nya lebih cepat, karena bisa dimulai dari ruko, kantor, atau kos-kosan yang direnovasi menjadi cabin hotel. Namanya, Front One Cabin (FOC).

Dalam waktu kurang dari dua tahun, jumlah FOC di Indonesia sudah ada 10 hotel, yaitu di Yogya, Bengkulu, Bekasi, Lampung, Jakarta, dan Solo. Dan, saat ini juga sedang dibangun di Boyolali, Blitar, Tulungagung, Sidoarjo, dan Jakarta. Profit kotor yang bisa didapat dari operasional cabin hotel rata-rata 55-58% tiap bulan. Ini yang menjadi daya tarik bagi calon pemilik properti, apalagi nilai investasinya hanya Rp 175 juta per kamar jika dibangun dari tanah kosong, atau Rp 125 juta per kamar jika dibangun dari bekas ruko. Semuanya sudah all in, termasuk MEP, arsitektur, interior, dan perlengkapan hotel.

Yang terpenting dalam pola kerjasama di bisnis ini adalah harus jujur dan fair, tidak boleh ada yang mau menang sendiri, karena durasi kontrak bisa 7-15 tahun. Karena itu, keterbukaan sangat penting. Hal itu harus dimulai dari awal ketika melakukan riset untuk membangun hotel.

“Kita harus sampaikan apa adanya hasil riset ke property owner, termasuk konsep hotel seperti apa, kelas bintang berapa, jumlah kamar. Agar ketika hotel beroperasi, tidak sulit mengoptimalkan okupansi. Tidak memaksakan untuk membangun hotel dengan jumlah kamar yang lebih dari hasil riset,” kata Dicky seraya menambahkan, pihaknya menargetkan sudah mengelola 120 hotel pada tahun 2023.

Meski sejauh ini tampak mulus, bukan berarti Dicky dkk. tanpa jatuh-bangun. Ia teringat betapa sulitnya di awal-awal untuk meyakinkan pemilik hotel agar memercayakan manajemen hotelnya pada Azana. Pihaknya beberapa kali ditolak karena pemilik properti lebih memilih operator asing walaupun pihaknya sudah menunjukkan berbagai fakta prestasi dan pengalamannya.

Walaupun timnya telah mengerahkan semua sumber daya, calon klien masih belum percaya sehingga tidak deal. Namun, Dicky dan timnya berpikir positif sehingga kemudian menambah investasi dengan meng-hire konsultan dan ahli untuk memperkuat tim.

Selain itu, pihaknya juga terus mendengarkan masukan dari luar, seperti dari tamu secara langsung atau review yang disampaikan melalui media online. “Keberadaan TripAdvisor, OTA Guest Review, dan Google Review menjadi salah satu tolok ukur kami mengevaluasi standar tiap unit. Bahkan, kami menjadikan hal ini masuk ke dalam salah satu KPI para GM dan HM,” kata Dicky.

Pihaknya terus memantau bagaimana para leader menangani review dan reputasi unit mereka di dunia digital. Penilaian customer terhadap hotel di dunia digital menjadi parameter yang dijadikan acuan terhadap pelayanan tiap hotel.

Webinar “Hotel Business Rebound, Extraordinary Action for Rapid Result” menghadirkan Keynote Speaker Hariyadi Sukamdani Ketua Umum PHRI, Faik Fahmi Presiden Direktur Angkasa Pura I, speaker Dicky Sumarsono CEO Azana Hotels & Resorts, I gede Arya Ketua Umum IHGMA, dimoderatori oleh Ernanda Ketua Umum IHGMA NTB. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.