Ecotourism Kontribusi Pariwisatan dan Bisnis Perhotelan

0
67

LINTAS1, SOLO – Dilihat dari aktivitasnya, perhotelan dan pariwisata mempunyai kaitan yang cukup erat. Kedua aktivitas yang sama-sama bergerak di bidang perekonomian ini, satu sama lainnya dapat dikatakan saling melengkapi.

LINTAS1.COM FOR ANDROID

Tumbuhnya pariwisata yang kini telah menjadikan salah satu industri telah diakui sebagai bagian yang sangat penting dalam menghasilkan devisa bagi negara. Oleh karenanya, di Indonesia bidang ini terus digarap, dikembangkan dan ditangani lembaga resmi yaitu oleh Kementerian Pariwisata.

Dan, berkembangnya kepariwisataan dengan segala macam mekanisme dan pengaturannya yang cukup kompleks terkait pergerakan wisatawan dengan segala aktivitas sudah barang tentu melibatkan banyak aspek, mulai dari transportasi, penginapan, restoran, pemandu wisata, hiburan dan sarana lain.

Terlebih belakangan ini pariwisata bukan lagi dilakukan oleh orang per-orang melainkan kunjungan wisata secara grup maupun rombongan sehingga industri wisata sudah memasuki tren baru sebagai mass tourism.

Semakin meningkatnya kunjungan wisatawan ke daerah-daerah dengan tujuan tertentu secara massif ini pastinya membutuhkan tempat untuk beristirahat, mandi dan makan.

Sementara ecotourisme business diharapkan memberi kontribusi positif bagi industri hospitality, sehingga signifikan untuk di tumbuh kembangkan terutama di kota Solo. Lalu, keuntungan apa sih yang bisa diperoleh ? dan disinergikanlan konsep bisnis ini dengan perhotelan? berikut wawancara JO dengan Praktisi Perhotelan di Solo Tito Adrianto.

“Ecotourism, sebenarnya sudah lama ide itu dikembangkan, mengingat Indonesia sangat cocok dengan suasana alam nya, dan orang yang dibiasakan dengan hotel megah mewah berbintang pasti akan membutuhkan sesuatu yang berbeda, back to nature mulai jadi pilihan,” ujar Tito, mengawali pembicaraan.

Kalau di bisnis hotel, lanjut Tito, meskipun hotel yang berlokasi di dalam kota tidak bisa dimaksimalkan karena kendalanya tidak di area eco area, tapi bisa dipraktekkan dengan nuansa nya seperti penghematan energy, pengelolaan limbah air sesuai dengan standar kesehatan lingkungan ataupun ISO. “Penggunaan material ramah lingkungan dan dari saving energy membuat cost lebih tekontrol,” tegasnya.

Menurutnya, hubungan ecotourism dengan hotel sudah dipastikan berkaitan erat, karena apabila sebuah ecowisata yang sudah ada di hotel, apalagi hotel tersebut menyatu nuansa nya dangan alam maka akan lebih membuat pengunjung semakin tertarik, contohnya seperti Baobap Prigen. Hotel juga pasti dibutuhkan untuk ukuran kesuksesan area ekowisata, sebab dengan adanya hotel maka ada sebuah tolak ukur lama wisatawan tinggal, dan kebutuhan terkait statistik pariwisata lain yang dibutuhkan.

Konsep ekowisata, meskipun pasar nya belum begitu banyak, disamping itu hanya beberapa pemilik dan pelaku perhotelan yang menerapkan konsep seperti itu, lebih karena perhitungan suply demand, belum banyak tamu hotel yang khusus mencari konsep alam dan nuansa eco di dalam kota, “Dengan adanya hotel menganut sistem eco maka lama kelamaan penginap akan terbiasa sadar dan terdidik dikemudian hari akan mencari hotel konsep ini, bukan hanya sekedar hotel mewah dan baik saja namun juga memperhatikan konsep eco ramah lingkungan di dalam kota,” terang Tito.

Hotel dengan konsep ecotourism selain tamu dapat menikmati produk, ada sisi pendidikan yang bisa diambil baik dari sisi konsumen maupun produsen. Walaupun konsep total alam memang lebih mahal investasi dan tarifnya, seperti hotel milik group aman jiwo, dihotel tersebut ada menawarkan konsep back to nature, ada hutan, layout dibuat berundak-undak layaknya konsep villa.Tapi kalau di lahan yang terbatas, seperti halnya ditengah kota tidak semua nya investor mampu.

‘Kalau hotel tengah kota saya pikir konsep nya saja yang diterapkan, seperti saving cost, membuat area hijau, hemat energi dengan produk-produk ramah lingkungan,” lanjutnya.

Meskipun tidak mudah untuk mendatangkan tamu menginap dengan segmentasi ini, karena diperlukan strategi market yang akurat untuk menariknya, diantara maraknya hotel konvensional dan perang tarif yang terus menggurita. Namun, demikian sejumlah strategi bisa dilakukan untuk mendatangkan kunjungan dan tamu menginap.

“Strateginya pertama sekali dengan menghadirkan nuansa hotel yang dibuat se-eco mungkin dari tampilan luar, sistem promosi juga banyak ditujukan ke komunitas muda peduli lingkungan dan senior,” ujar Tito.

Karena senior, kata Tito, biasanya akan lebih nyaman menginap di tempat yang tenang dan nuansa eco, tidak seperti pasar businessman dan government yang tidak memerlukan konsep eco.

“Sedikit demi sedikit sudah kita lakukan untuk mengedukasi tamu menginap, sudah banyak juga sekarang walaupun sedikit dan kecil, iklan nya di dalam kamar seperti contoh leaflet gantung handuk apabila ingin dipakai kembali, melalui hal-hal kecil apabila konsumen sudah sadar, maka akan mau melakukan nya, itu baru 1 contoh diterapkan dan dampak nya akan sangat besar sekali untuk lingkungan dan juga cost perusahaan,” terang Tito.

Dengan ada nya peraturan dari pemerintah yang menghimbau akan lebih cepat dampak untuk pelaksanaannya, sedangkan wisatawan mancanegara sebagai target konsumen yang sangat penting. Kalau kebutuhan pokok menginap dihotel terpenuhi dan konsep eco diterapkan akan sangat luar biasa dampaknya.

Karena saat ini dirasa masih ada sesuatu yang kurang berimbang dalam kebutuhan pokok konsumen menginap di suatu hotel, seperti luas area kamar, kenyamanan tidur dan fasilitas lain. Sementara konsumen lokal tidak sedikit yang masih mempertimbangkan harga, dari pada faktor lain.

Marketing Online Tumbuh
Maraknya jaringan penginapan budget online yang berfokus pada perkembangan penginapan dan distribusi penjualan secara online, lebih memilih properti yang berpotensi untuk bekerja sama secara langsung dan terikat komitmen. Meskipun bertanggung jawab untuk membantu penjualan kamar secara online dan offline – termasuk penjualan skala besar seperti corporate sales program.

Bertumbuhnya jasa operator marketing online, memberikan fenomena tersendiri penjualan hotel, terutama bagi tamu dan peminat kamar, itu membuat mereka kian ‘menggila’ memburu harga kamar yang paling rendah, bahkan mendapatkan harga di bawah batas kewajaran ?

“Kalo menurut saya, karena harga penginapan belum ada nya aturan pasti tentang klasifikasi penginapan,” kata Tito lebih lanjut.

Sekarang semua orang sangat mudah menjual akomodasi, dan hanya dengan menggunakan rumah pribadi, kos-kos an, sudah bisa disewakan harian, akomodasi-akomodasi lain yang mengandalkan online pun mau tidak mau semua akan mengikuti dan menyesuaikan harga.

Tito

Ketidakjelasan aturan, rancu klasifikasi penginapan akibat dari adanya rumah dan kos yang masuk kategori penginapan dan disewakan, praktis membuat hotel-hotel berijin pun, kadang menurunkan standar harga nya demi menutup biaya operasional.

Sementara tren penggunaan OTA dan online marketing semacam Zenroom, RedDoorz, Airy, OYO diprediksi akan menjadi pilihan pemilik hotel untuk jualan kamar, terlebih bagi hotel yang frustrasi dan tidak memiliki tenaga marketing dan strategi pasar menghadapi persaingan. Meskipun diyakini kerjasama itu berdampak buruk bagi pemilik properti dari pada nilai kontraknya. Selain tidak ada gunanya sertifikasi dan klasifikasi hotel yang disandangnya.

“Owner kos harian dan penginapan dibawah 20 kamar akan sangat tertarik dan mungkin menambah properti mereka, karena dengan ada nya efisiensi tenaga yang hanya membutuhkan beberapa staff saja di penginapannya, keuntungan bisa diambil semaksimal mungkin dan terencana,” imbuh Tito.

Yang pasti, pelaku perhotelan tetap mengandalkan kenyamanan untuk para tamu menginap dengan harga yang terjangkau, atau melakukan update fasilitas yang tidak ditawarkan hotel lain seperti konsep eco.

Membangun “Hostel” dengan fasilitas yang baik akan membuat pangsa pasar anak muda dan anak-anak sekolah akan terfasilitasi apabila ada perjalanan wisata sekolah.

Untuk memenuhi kebutuhan itu semua, maka keberadaan hotel menjadi sangat dimungkinkan menjadi salah satu sarana penunjang penting bahkan bisa disebut sebagai sarana pokok kepariwisataan (main tourism superstructures) sehingga para wisatawan yang datang dan berkunjung di suatu tempat akan terpenuhi akomodasinya.

Semakin pesatnya perkembangan pariwisata berarti pula akan menggairahkan aktivitas di bidang perhotelan. Disinilah usaha perhotelan mempunyai keterkaitan dengan pariwisata, tanpa pertumbuhan pariwisata sangat mungkin kondisi hotel menjadi lesu. Demikian halnya, tanpa tersedianya salah satu akomodasi berupa hotel atau penginapan bagi wisatawan maka kepariwisataan menjadi kurang nyaman.

Pertumbuhan kepariwisataan dan perkembangannya yang semakin meningkat bahkan sudah memasuki industri wisata di era pasar bebas seperti sekarang, usaha perhotelanpun mengikutinya. Daya jual pariwisata Indonesia yang unik dengan kelebihan alamnya dan eksotis yang semakin ‘laris manis’ dan cenderung banyak dikunjungi wisatawan asing berdampak pula pada tingkat hunian hotel. Ini tidak lain merupakan hukum sebab-akibat dimana kedua bidang ini saling melengkapi sehingga terus eksis dan layak mendapat perhatian pemerintah maupun pihak pengusaha yang bersangkutan. Semoga .. (ian)



Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.