Setelah Guru Kreatif, Giliran Peran Orang Tua Peserta Didik ?

Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 8 Surakarta, No. HP. : 081329405977

LINTAS1– Seseorang bisa dikatakan kreatif apabila memiliki daya cipta, mempunyai kemampuan untuk menciptakan atau mampu menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun kenyataan yang relative berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh misalnya guru menyiapkan berbagai cara kreatif yang diterapkan kepada para peserta didik dalam menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer ( UNBK ). Saya ( penulis ) akan menanggapi masalah itu, bahwa saat ini Guru menyiapkan cara-cara yang kreatif untuk para peserta didiknya. Peran orang tua amat sangat dibutuhkan juga untuk memperhatikan anak-anaknya selama di luar jam sekolah.

Karena di dunia pendidikan saat ini masih terlalu banyak gangguan-gangguan yang membuat dunia pendidikan tercoreng. Kejadian ada beberapa peserta didik melakukan pengeroyokan dengan seorang peserts didik, seperti bukan perilaku seorang pelajar. Malah beberapa waktu yang lalu di Sampang seorang peserta didik membunuh gurunya sendiri. Dan masih banyak lagi perbuatan peserta didik yang melakukan sesuatu di luar dugaan kita sebagai guru.

Ada komentar, saya menemukan pandangan bahwa guru dianggap kurang profesional. Tidak mengapalah dianggap kurang profesional, karena kurang profesional itu merupakan simbol kerendahan hati agar guru harus tetap rendah hati untuk tetap terus mau mengajar dan tetap terus berjuang. Guru dan belajar , merupakan dua mata rantai yang tidak terpisahkan. Guru banyak yang meng-up grade pengetahuan dan kemampuannya. Karena hanya dengan belajar, hidup seseorang dapat berubah menjadi bermakna atau bisa dikatakan lebih sejahtera.

Memanusiakan hubungan bertujuan untuk mengajak guru dan peserta didik memiliki relasi secara manusiawi. Peserta didik sebagaimana guru. Mereka butuh untuk didengarkan , dipahami dan dipercaya agar nyaman dan gemar belajar. Bukan hal mustahil, kekerasan akan terjadi di ruang belajar, baik yang dilakukan oleh guru , peserta didik dan orang tua. Meski tidak sebesar orang tua, guru memiliki peran besar terhadap tumbuh kembang peserta didiknya. Guru akan menjaga otonomi di ruang kelas untuk mengajar dan mendidik para peserta didik. Guru akan menentukan suasana dalam kelas , apakah akan menjadi suasana gemar belajar atau terpaksa belajar.

Sebagai contoh bahwa persiapan UNBK sudah dilakukan sejak semester ganjil. Dengan jumlah sekian peserta didik akan bersiap – siap menghadapi UNBK. Para guru menggelar program intensif, try out, pembuatan ringkasan materi, hingga program super intensif untuk para peserta didik. Saat inilah peran orang tua untuk lebih meningkatkan perhatian kepada anak-anaknya. Peserta didik harus selalu menjalankan tugas di sekolah dan berlatih terus untuk mengerjakan soal-soal ( try out ) yang diadakan di sekolah.

Peran orang tua dimulai dari pagi hari sampai ke pagi lagi harus lebih ditingkatkan. Karena selain peserta didik belajar di sekolah, di rumahpun peserta didik harus tetap diawasi oleh orang tua masing-masing. Biasanya peserta didik setiap mendekati UNBK, PAS ( Penilaian Akhir Semester ), itu pikiran menjadi berbeda ( menjadi pelupa ) bahkan kemrungsung seolah-olah waktu itu berjalannya cepat sekali. Karena apa? Yang tadinya belajar itu santai-santai , sekarang mau atau tidak harus bahkan wajib belajar.

Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya gagal dalam bersekolah, apalagi menjadi anak yang nakal. Yang diharapkan oleh orang tua adalah ingin anaknya itu menjadi lebih pandai dari orang tuanya dan berbudi pekerti baik. Kadang orang tua merasa sudah menjadi orang tua jika sudah memberi nasehat. Padahal pengasuhan tidak sekedar memberi nasehat. Zaman dulu kalau anak menangis , orang tua langsung memeluk, bawa jalan-jalan, orang tua bernyanyi dan menghibur. Kalau sekarang anak menangis, dihibur dengan tivi upin ipin atau yang lain. Karakter yang diperoleh anak zaman dulu adalah bahwa setiap anak sedih, maka ayah dan ibu yang akan menenangkannya. Zaman now, kalau anak sedih, mereka akan mencari gadget untuk mengusir kesedihan. Akhirnya ikatan batin antara anak dan orang tua akan beralih. Sehingga anak-anak lebih mendengar orang lain atau gadget dibandingkan dengan kedua orang tuanya.

Bisa disimpulkan bahwa membuat anak untuk bisa atau mau mendengarkan kita sebagai orang tua adalah buatlah mereka jatuh cinta terlebih dahulu kepada orang tua, membangun kembali ikatan batin dengan orang tua.Biarkanlah mereka merasakan nikmatnya ngobrol dengan orang tua lebih nikmat dari pada update status di fb, asyiknya bermain-main dengan orang tua lebih asyik dari pada main di hape.

Beberapa efek negatif dari paparan gadget antara lain bahwa anak-anak tidak sabaran, maunya serba instant. Lapar sedikit tinggal go food, beli tiket tidak perlu antri. Sebenarnya diperbolehkan menggunakan fitur tersebut, apabila benar-benar tidak ada waktu atau kepepet. Sehingga anak-anak bisa belajar, ternyata untuk mendapatkan sesuatu itu juga perlu usaha. Selain itu efek negatifnya anak-anak gampang menyerah, tidak tangguh. Tidak suka dengan seseorang langsung block nomernya, tidak sependapat langsung kabur, berbeda pendapat langsung emosi dan tidak mau memahami pendapat orang lain, masuk sekolah baru sebulan minta pindah karena hal sepele, dan lain sebagainya.

Termasuk yang biasanya dilakukan oleh orang tua selalu berkomunikasi dengan pihak sekolah, tentang perkembangan anaknya. Orang tua harus bisa menjaga hubungan baik dengan pihak sekolah. Semua orang tua menginginkan agar anaknya bisa lulus dengan nilai yang baik dan mendapatkan sekolah yang lebih tinggi sesuai yang diharapkannya. Komunikasi tidak harus mendatangi sekolah, tetapi sudah ada caranya yaitu dengan sarana hape. Kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun akan mudah sekali untuk menghubunginya. Apalagi sekarang di sekolah-sekolah sudah ada paguyuban yang dibentuk oleh orang tua peserta didik demi kemajuan anak-anaknya.

Dengen penjelasan seperti tersebut di atas maka orang tua harus lebih kreatif mencari informasi/ terobosan masalah pelajaran anak-anaknya melalui hape. Dengan demikian anak akan lebih semangat lagi, karena mereka merasa bahwa orang tuanya sama kreatifnya dengan sang guru. Anak-anak akan merasa bangga karena mempunyai orang tua yang bisa membantu dalam meringankan bebannya. Anak yang selalu diberi soal untuk dikerjakan, lama kelamaan akan menjadi pandai. Ibaratnya pisau yang selalu diasah , maka akan menjadi tajam. Begitu juga pikiran yang selalu digunakan setiap saat dan terus menerus, akhirnya akan menjadi cerdas dan pandai ( ora kethul pikire / bodoh ).

Beberapa sekolah membentuk paguyuban itu merupakan jalan komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua peserta didik. Tentu saja kegiatan yang ada hubungannya dengan sekolah. Di luar itu bukan tanggungjawab pihak sekolah. Sudah saatnya untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, semoga dengan kreatifitas ini nanti antara orang tua dan pihak sekolahan bisa bekerja sama dengan baik demi keberhasilan anak- anak kita semua. Agar dunia pendidikan bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya dan anak-anak menjadi generasi penerus bangsa yang berbudi pekerti baik.

Kerjasama yang bagus akan mendapatkan hasil yang bagus juga. Dan yang lebih penting lagi adalah peran orang tua untuk membimbing anaknya selalu berbuat baik. Memberi contoh untuk anaknya juga baik. Membiasakan anak untuk selalu sopan santun terhadap orang lain. Kalau semua itu sudah dibiasakan di rumah , yakinlah anak itu kalau di sekolah juga akan terbiasa seperti apa yang dilakukan di rumah.

Guru yang kreatif dan orang tua yang kreatif membiasakan anaknya berbudi pekerti baik, maka yang dilakukan akan terwujud dan yang diinginkan akan tercapai (kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh). Sudah kreatifkah Anda ? (sri)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.