Desty Bawa Batik Solo ke Malaysia

0
334

Pingin ikut Solo Batik Carnival belum kesampaian

LINTAS1.COM FOR ANDROID

SOLO – Keberangkatannya ke negeri jiran Malaysia bukan tanpa alasan, bagi gadis manis bernama lengkap Desty Prabandari, yang kini tengah menempuh studinya di Fakultas Hukum semester V di Universitas Islam Batik (Uniba) Surakarta.

Kecintaannya terhadap batik, menjadi kebanggaan tersendiri baginya karena merupakan budaya Indonesia sekaligus menjadi warisan dunia, dan membatik sebagai bagian upayanya melestarikan peninggalan bersejarah tersebut untuk terus di uri-uri dan di jaga keberlangsungan keberadaannya.

Melalui program Short Term Edutainment kolaborasi antara Uniba Surakarta and Univesiti Teknical Malaysia Malaka (UTeM), bertekad untuk mengenalkan potensi daerah Solo tersebut ke mancanegara.

“Salah satu budaya Indonesia supaya tidak di klaim negara lain,” alasannya mengapa Desty membawanya ke Malaysia dan mengenalkannya kepada dunia.

Disisi lain, lanjutnya, karena itu peninggalan leluhur kita sejak jaman penjajahan Belanda, dan sebagai anak bangsa harus melestarikan budaya kita.

Ternyata bukan hanya saat akan berangkat ke Malysia saja aktivitasnya membatik dan batik ditekuninya, karena cintanya terhadap industri kreatif ini telah tertanam sejak kecil. “Sejak saya SD, sudah mengikuti berbagai lomba membatik. Contoh salah satunya lomba 1000 anak membatik,” kenangnya.

Desty pun pernah dinobatkan sebagai finalis DBK (Duta Batik Kauman) karena rumah yang ditinggalinya berada di daerah Kauman, Pasar Kliwon yang merupakan sentra industri batik.

Selain batik dan tari tradisional ada juga puisi, nembang Jawa, dan koor yang dibawa ikut serta dengan peserta 20 siswa SMK/SMA Batik dan mahasiswa Uniba dalam program yang baru dilakukan perdana oleh Uniba dan Yapertib ini.

Sementara untuk pelestarian batik di Indonesia utama nya kota Solo menurut Desty sudah sangat bagus, karena terbukti sampai ada 2 (dua) kampung batik di kota Solo yang kegiatannya dari membuat atau memproses batik dari bahan dasar kain mori putih sampai menjadi batik.

Dan di kampung batik tersebut selain dapat melihat hasil karya batik, juga bisa mengikuti workshop yang ingin belajar membatik, terutama bagi wisatawan mancanegara.

“Di kampung batik Kauman dan Laweyan turis asing yang ingin mengenal dan belajar membatik, bisa mencoba dan belajar langsung di sini,” terang Desty.

Untuk memperkuat branding tentang produk unggulan Solo ini, sejumlah event diselenggarakan oleh stakeholder maupun pemerintah di kota Solo dengan mengangkat tema batik, salah satunya penyelenggaraan lomba 1000 anak membatik untuk anak-anak, Fashion show batik, Solo Batik Carnival atau yang lebih dikenal dengan sebutan SBC.

Pernah ikut SBC ? Sebenarnya ada niatan kepingin nyoba. Biar bisa memamerkan busananya sampai ke luar negeri, seperti saudara saya dulu pernah sampai ke luar negeri. “Tapi, fisik saya tidak memungkinkan karena kena panas kelamaan pusing,” ceritanya sembari tersenyum renyah.

Target dan obsesi Desty berangkat ke Malaysia apa? Pingin mengetahui sejauh mana orang Malaysia khususnya mahasiswa yang kita kunjungi mengetahui dan menyukai batik produk Indonesia. “Yang saya inginkan, dunia itu mengetahui bahwa batik itu milik Indonesia,” tegasnya, menutup wawancara di sela keberangkatannya ke negeri tetangga.

Program Short Term Edutainment yang dilaksanakan selama 7 hari, mulai 23-31 September 2018, fokus pada pertukaran ilmu pengetahuan, kebudayaan dan jaringan komunikasi. 20 peserta telah melalui berbagai seleksi dengan kompetensi yang dimilikinya, IPK tinggi menjadi syarat utama bagi mahasiswa Uniba untuk bisa lolos, selain kemampuan berbahasa Inggris.

Melalui program yang berkesinambungan tersebut memberi manfaat untuk membawa Uniba ke jaringan go internasional. (ian)



Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.