City Branding Kota Solo

0
240

Drs. Suharno, MM, Akuntan

LINTAS1.COM FOR ANDROID

LINTAS1, SOLOWHAT is in a name, apalah arti sebuah nama ? Itulah untaian kata yang dilontarkan pujangga Inggris William Shakespeare yang melegenda hingga saat ini. Namun ungkapan tersebut tidak berlaku bagi orang Jawa yang memiliki keyakinan ”asmo kinarya jopo”.

Nama merupakan manifestasi spiritual yang berupa doa, pengharapan dan sekaligus sebagai suatu permohonan kepada Tuhan. Menamakan sesuatu, misal anak, produk, benda pusaka, dan tidak terkecuali nama kota, harus direncanakan dan diperhitungkan matang-matang. Tidak boleh asal-asalan.

Terkait dengan nama kota, sebagai warga masyarakat kita sering bingung bila ditanya asal daerah ? Surakarta, Sala ataukah Solo. Secara administratif pemerintahan bernama kota Surakarta. Namun dalam praktik keseharian kita lebih suka menggunakan sebutan Sala atau Solo. Keengganan menyebut nama Surakarta, karena, nama tersebut tidak praktis, tidak spesifik dan tidak bergengsi.

Bila menjawab dari Surakarta. Lawan bicara masih akan mengejar, Surakarta-nya mana ? Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Klaten, Karanganyar. Sebab dalam benak mereka Surakarta memiliki makna luas yaitu eks Karisidenan Surakarta yang sekarang beken disebut Solo Raya. Tetapi lucunya orang-orang yang tinggal di wilayah Solo Raya, bila ditanya asalnya mereka selalu menjawab dari Solo. Ada semacam kebanggaan bila bisa mengaku sebagai “ Wong Solo “.

Butuh Rebranding
Penamaan kota Solo atau Surakarta atau Sala seyogyanya konsisten. Kita harus membuat city branding. City branding bukan hanya membuat slogan dan melakukan publisitas serta promosi. Aktivitas city branding juga ditujukan agar masyarakat mendapatkan gambaran, asosiasi dan ekspektasi dalam benaknya ketika melihat atau mendengar sebuah nama, logo, produk, layanan yang disajikan kota Solo.

Dalam membuat sebuah city branding, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi, diantaranya: Attributes. menggambarkan sebuah karakter, daya tarik, gaya dan personalitas kota. Message. menggambarkan sebuah cerita, menyenangkan dan selalu mudah diingat. Differentiation, unik dan berbeda dari kota-kota yang lain. Ambassadorship, menginsipirasi orang untuk datang dan ingin tinggal di kota tersebut.

City branding merupakan bagian dari strategi mewujudkan keunggulan bersaing suatu daerah. Menurut Michael Porter, secara garis besar harus mempunyai tiga langkah strategis. Pertama menjadi tuan rumah yang baik (Be a good host) bagi pelanggan daerah. Kedua, memperlakukan mereka secara baik (Treat your guest properly). Dan terakhir, membangun sebuah ”rumah” yang nyaman bagi mereka (Building a home sweet home).

Menilik uraian di atas, nampaknya usulan penamaan ulang (rebranding) Surakarta menjadi Sala atau Solo, perlu disikapi dan direspon dengan serius, khususnya oleh Pemkot Surakarta. Pemilihan nama yang tepat merupakan pekerjaan yang sangat penting karena memiliki implikasi jangka panjang dan merupakan satu-satunya atribut yang paling terlihat. Nama harus menciptakan citra yang positif. Sebab nama merupakan tahap terpenting dalam penciptaan merek.

Bukan Hal Tabu
Berdasarkan kajian di atas, menurut hemat penulis, nama yang paling cocok dan pas untuk menyebut kota ini adalah “SOLO“. Mengapa Solo bukan Sala atau Surakarta ? Alasannya sederhana. Nama Solo sangat marketable. Mudah diucapkan, mudah diingat, serta mudah dieja.

Coba bila kita gunakan nama Sala, ada kemungkinan bisa salah ucap, serta sering kali ada keraguan untuk mengucapkan SALA, dengan dominan bunyi “a“ seperti mengucapkan SALAH atau Sala, dengan penekanan a dibaca “o“, tetapi tidak penuh, seperti kita mengucapkan kata SOSOK. Dan yang tidak kalah pentingnya, nama Solo telah mendunia. Secara kebetulan kata SOLO tercantum dalam Kamus Bahasa Inggris, yang artinya tunggal.

Pergantian nama daerah atau kota bukan hal tabu. Misalnya Irian Jaya, kini menjadi Papua. Ujung Pandang menjadi Makasar. Dalam BUZZ MARKETING, Mark Hughes (2005) pernah mewujudkan ide gila, merubah nama sebuah kota Halfway, Oregon, di Amerika Serikat menjadi Half.com.

Perubahan nama itu semata-mata pertimbangan ekonomi dan bisnis semata. Keinginan mendongkrak nama perusahaan dotcom yang dipimpin dalam waktu singkat, dengan biaya relative murah. Di sisi lain juga mengenalkan kota Oregon dalam peta dunia. Ide yang controversial ini sempat mendapat tentangan dari berbagai pihak. Namun akhirnya, Mark Hughes mampu menyakinkan stake holder.

Begitu rencana pergantian diluncurkan sudah menjadi bahan pergunjingan dan publisitas gratis di semua media masa, sampai berminggu-minggu. Secara mengejutkan dalam waktu relative singkat Half. Com dikenal disemua penjuru dunia.

Belajar dari kasus di atas, boleh jadi pergantian nama Surakarta menjadi Solo, bila digarap dengan cerdik, khususnya dalam mengelola isu dan mampu memanfaatkan momentum yang pas, akan menjadi peristiwa yang monumental. Mampu mengangkat nama kota Solo mendunia seperti Half.Com. Penulis memiliki keyakinan hal itu pasti bisa terwujud, karena Solo gudangnya kreativitas. Bagaimana pendapat Anda ?

Ditulis : Drs. Suharno, MM, Akuntan – Dosen Program Studi Magister Manajemen (MM) dan Akuntansi Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta



Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.