Rumah Subsidi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

0
429

Perumahan bagi MBR, Taman Permata Regency Jeruk Sawit Karanganyar

LINTAS1.COM FOR ANDROID

LINTAS1, SOLO – Bagi sebagian masyarakat, memiliki rumah sendiri masih sebatas impian. Harga rumah terus melambung tak terjangkau oleh pendapatan yang mereka terima.

Inflasi memiliki andil besar terhadap harga rumah makin mahal naik sekitar 10% setiap tahunnya. Dan populasi penduduk mendongkrak kebutuhan akan rumah.

Sebagai kebutuhan primer, masyarakat akan memprioritaskan rumah terlebih dulu sebelum berpaling pada kebutuhan lain. Sebagian masyarakat juga memandang rumah sebagai sarana investasi. Terbatasnya lahan, mempengaruhi penyediaan rumah lantaran tingginya harga tanah.

Berbagai faktor tersebut membuat backlog atau selisih pasokan dan permintaan rumah, kini mencapai 13,5 juta unit. Di sisi lain kebutuhan rumah baru yang bersumber dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi setiap tahunnya mencapai sekitar 800 ribu unit. Sementara kebutuhan rumah yang dapat dipenuhi hanya sekitar 400 ribu hingga 500 ribu unit.

Akibatnya backlog terus naik, sehingga ada kekurangan sebesar 400.000 ribu unit setiap tahun. Selain itu, ada rumah yang tidak layak huni, sebanyak 3,4 juta dan daerah kumuh perkotaan sekitar 38.000 hektar.

“Sulitnya memecahkan backlog ini lantaran semakin mahalnya harga lahan, meningkatnya biaya kontruksi, suku bunga, dan tingginya uang muka,” ujar Maharani, Direktur PT Dua Putra Bengawan. Senin (28/7/2017)

Alhasil, bagi masyarakat berpenghasilan rendah, jangankan membeli tunai, membayar uang muka dan mencicil bulanan saja tidak sanggup. Mereka akhirnya terpaksa mengontrak, yang tentu akan menggerus pendapatan.

“Jika kondisi tersebut dibiarkan, mereka akan semakin sulit mempunyai rumah sendiri,” pungkas Rani. (ian)



Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.